Pendahuluan: Mengapa analisis perubahan tutupan lahan itu penting?
Lahan merupakan sumber daya vital yang menjadi dasar bagi berlangsungnya proses alam dan aktivitas manusia. Berbagai kebutuhan manusia, baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun ekologi, bergantung pada pemanfaatan lahan dengan berbagai fungsinya. Dinamika kebutuhan ini menyebabkan perubahan tutupan lahan seiring waktu, mencerminkan bagaimana aktivitas manusia berinteraksi dengan lingkungan.
Perubahan tutupan lahan bukan sekadar fenomena fisik, tetapi juga hasil dari interaksi kompleks antara faktor institusional, sosioekonomi, dan dinamika lingkungan. Berbagai sektor memiliki kepentingan berbeda dalam penggunaan lahan, sementara ketersediaan lahan itu sendiri terbatas. Ketidakseimbangan ini sering kali memicu kompetisi dalam pemanfaatan lahan, dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah serta fungsi ekologis yang perlu dijaga.
Dalam konteks tersebut, analisis perubahan tutupan lahan menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi pola perubahan penggunaan lahan dari waktu ke waktu. Analisis ini memungkinkan kita untuk memahami trajektori perubahan suatu kelas tutupan lahan, seperti melihat tren deforestasi atau degradasi hutan, serta dampak perubahan kebijakan tata guna lahan.
Melalui modul Pre-QuES, analisis perubahan tutupan lahan dapat lebih jauh mengeksplorasi bagaimana unit perencanaan, meliputi di antaranya yang berhubungan dengan administratif, fungsi kawasan, maupun tata ruang, dapat mempengaruhi tren perubahan tutupan lahan. Selain itu, analisis ini memungkinkan kita membedakan perubahan tutupan lahan berdasarkan kelas unit perencanaannya, memberikan wawasan lebih dalam untuk mendukung kebijakan pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.
Studi Kasus: Cerita tentang deforestasi dan ekspansi perkebunan dari Kabupaten Bungo
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan hutan hujan tropis terbesar di dunia, telah lama menggantungkan sumber ekonominya pada aktivitas ekstraktif berbasis lahan, termasuk penanaman komoditas perkebunan, pertanian, dsb. Aktivitas ini menjadi salah satu faktor yang mendorong pembukaan lahan secara masif, mengakibatkan perubahan lanskap tutupan lahan yang signifikan di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.
Dalam periode 1990 hingga 2010, Kabupaten Bungo mengalami transformasi yang cukup signifikan dalam penggunaan lahannya seperti dapat dilihat pada peta perbandingan tutupan lahan di Gambar 1. Perubahan ini didorong oleh berbagai faktor ekonomi, kebijakan pemerintah, serta dinamika sosial di tingkat lokal maupun nasional.

Berdasarkan data luas tutupan lahan yang diperoleh dari interpretasi citra satelit oleh tim ICRAF pada Tabel 1, dalam periode tersebut telah terjadi dinamika perubahan tutupan lahan yang cukup signifikan. Tutupan lahan hutan primer mengalami deforestasi hingga 59.43% dengan laju penurunan luas rata-rata 5,174.54 ha/tahun pada kurun 1990-2000, kemudian laju menurun pada kurun 2000-2005 menjadi -3,454.43 ha/tahun, tetapi meningkat dua kali lipat pada kurun 2005-2010 yakni -8,516.62 ha/tahun. Laju deforestasi ini menjadi indikator pemanfaatan lahan yang tidak lestari dan jika dibiarkan akan berujung pada hilangnya tutupan hutan primer di Kabupaten Bungo.
- penurunan deforestasi ini masuk akal karena:
- luas tutupan hutan semakin sedikit
- tutupan hutan yang tersisa semakin sulit diakses (topografi, kawasan, dll)
Namun, sebenarnya perubahan apa yang menjadi faktor utama hilangnya hutan primer di Kabupaten Bungo? Jawaban atas pertanyaan ini sama pentingnya dengan analisis tentang laju perubahan tutupan lahan. Jika dilihat secara historis, pada tahun 1990, jenis tutupan lahan yang mendominasi di Kabupaten Bungo terdiri dari hutan primer, karet (monokultur dan agroforestri), serta perkebunan kelapa sawit. Komposisi tutupan lahan tersebut terus bertahan hingga 2010, di mana tutupan lahan perkebunan untuk komoditas kelapa sawit meningkat 2,5 kali lipat, dari 41,840 ha menjadi 107,264 ha. Sama halnya dengan komoditas perkebunan karet yang mengalami peningkatan luas 63% menjadi 132,979 ha. Terjadi perubahan tren perkebunan karet dari sistem agroforestri menjadi monokultur pada pada tahun 2010.
Dinamika komposisi tutupan lahan tersebut memberikan jawaban yang cukup jelas mengenai kemana hilangnya tutupan hutan primer dalam kurun 20 tahun, namun, apakah memang demikian?
| Land-use/cover types | 1990 (ha) | 2000 (ha) | 2005 (ha) | 2010 (ha) |
|---|---|---|---|---|
| Primary Forest | 187,796.48 | 136,051.02 | 118,778.87 | 76,195.77 |
| Rubber Monoculture | 81,278.75 | 111,988.56 | 123,342.06 | 132,979.23 |
| Rubber Agroforestry | 76,876.50 | 60,217.11 | 59,702.31 | 45,128.09 |
| Oil Palm | 41,840.40 | 70,715.94 | 79,447.48 | 107,264.44 |
| Logged-over Forest (Low Density) | 19,134.41 | 5,362.87 | 5,560.79 | 4,956.03 |
| Logged-over Forest (High Density) | 1,709.32 | 7,920.86 | 12,940.87 | 24,994.08 |
| Settlement | 2,732.92 | 13,357.70 | 15,677.78 | 18,872.51 |
| Rice Fields | 9,962.05 | 16,587.42 | 16,646.39 | 16,407.49 |
| Agricultural Land | 673.73 | 11,027.62 | 7,019.21 | 4,303.29 |
| Open Land | 2,749.91 | 3,386.66 | 3,224.72 | 3,680.54 |
| Mixed Gardens | 210.92 | 310.88 | 539.79 | 3,418.64 |
| Cinnamon Agroforestry | 3,846.47 | 4,577.18 | 5,170.95 | 1,708.32 |
| Shrubland | 2,095.17 | 558.78 | 3,701.53 | 11,987.24 |
| Grassland | 29.99 | 589.77 | 142.94 | 140.94 |
| Water | 7,717.94 | 7,717.94 | 7,717.94 | 7,717.94 |
Untuk melihat jenis perubahan tutupan lahan apa yang terjadi pada hutan primer Bungo, LUMENS melalui modul Pre-QuES dapat memfasilitasi kita untuk mengetahuinya. Hasil analisis Pre-QuES pada Gambar 2 menunjukkan dalam kurun waktu 20 tahun, jenis perubahan tutupan lahan terbesar berasal konversi lahan agroforestri karet menjadi karet monokultur, diikuti dengan deforestasi pada hutan primer untuk perkebunan kelapa sawit di urutan kedua sebesar 29,095 ha dan pembukaan hutan primer untuk karet monokultur pada urutan ketiga sebesar 25,484 ha.

Aliran perubahan tutupan lahan secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 3 yang menunjukkan tipe konversi apa saja yang terjadi pada sejumlah kelas tutupan lahan. Perkebunan kelapa sawit pada tahun 2010 terbentuk dari pembukaan hutan primer, hutan sekunder, dan perkebunan karet. Sama halnya dengan perkebunan karet monokultur yang dominan disumbang oleh pembukaan hutan primer dan konversi lahan karet agroforestri.

Untuk melihat sebarannya secara spasial, Pre-QuES menghasilkan peta trajektori yang menunjukkan sebaran lahan yang terkonversi dalam satu periode waktu. Gambar 4 menunjukkan lokasi sebaran tutupan hutan primer yang terdeforestasi dan berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan karet monokultur. Lahan hutan primer yang dibuka untuk perkebunan sawit didominasi berada di area timur, mendekati wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, sementara tutupan hutan primer yang terkonversi menjadi perkebunan monokultur cenderung tersebar dalam luasan yang cenderung kecil.
